| Tanda 'kecocokan' Bibi dan Abah. Romantis euy....! |
Bibi Titi Teliti ngadain Giveaway?
Hadiahnya Ok, lagi…
Ikut, aah…
Syaratnya, cuma nulis postingan tentang
salah satu tulisan Bibi di Blogdetik. Ok, segera laksanakan.
Tahap pertama, acak-acak dulu blognya
Bibi, pilih salah satu tulisan yang mau kita bully (eh, salah, maksudnya kita
analisis dan kritisi).
*sound effect orang lagi bongkar-bongkar
gudang*
Uhuk-uhuk! Duh, debunyah…Jarang
bersih-bersih, kayaknya yang punya gudang. Nah, yang ini ajah. Kayaknya bagus
buat dibully…hi…hi…hi..
Tulisan Bibi yang judulnyah “…Karena (Udah Nggak) Cocok Ajah….”,langsung bikin aku terinspirasi buat menganalisis. *ketularan Detektif Conan*. Diawali dengan betenya Bibi lihat ‘KD pelukan ama Raul Lemos’ dan diakhiri dengan renungan soal kecocokan Bibi dan Abah.
Turut ngakak waktu tahu ternyata
hubungan Bibi dan Abah, waktu masih kuliah, dijadikan ajang taruhan sama
temen-temen mereka (Btw, siapa yang menang taruhannya, Bi? Kepo, nih).
Juga, sedikit kagum dengan usaha Bibi
untuk mencari kecocokan dengan Abah lewat segala macam ramalan dan kuis, yang
ternyata berujung pada satu kenyataan, Bibi dan Abah diputuskan, NGGAK COCOK!
Dan, meluncurlah cerita Bibi Titi
tentang segala ketidak cocokannya dengan Abah. Mulai dari selera acara TV,
musik, kebiasaan bangun pagi, sampe belanja bulanan! Termasuk juga, tentang
keresahan Bibi, karena sering banget diramal nggak cocok sama Abah (Bibi Titi
Teliti juga manusia…*apaan, sih*). Dan jawaban cerdas Abah atas keresahan Bibi,
serta doa Abah yang maksa banget ituh…
Jadi inget sama pengalaman aku beberapa
tahun yang lalu. Bukan pengalaman yang berhubungan dengan seseorang, sih, tapi,
dengan sekelompok orang. Lengkapnya bisa dibaca di sinih
Selama berbulan-bulan setelah peristiwa
itu, aku masih terus bertanya-tanya. Apa yang sebetulnya terjadi? Kenapa aku
bisa semarah ituh? Apakah Jupe akan masuk penjara? Benarkah DP akan menikah
lagi? *abaikan saja dua pertanyaan terakhir*
Aku baru dapat jawabannya di bulan
Agustus tahun berikutnya. Waktu itu, aku meminjam buku berjudul ‘Personality
Plus’, ditulis oleh Florence Littauer. Buku itulah yang membuka misteri sebab
terjadinya peristiwa aku marah besar sama-teman-temanku.
Ternyata yang jadi masalah, adalah
benturan antar tipe kepribadian. Ada kebutuhan emosionalku yang tidak dipenuhi
oleh teman-teman, begitu pula sebaliknya.
Aku tipe ‘melankolis yang sempurna’,
yang maunya semua serba teratur dan terjadwal serta tepat waktu. Sementara,
teman-teman dengan berbagai tipe kepribadian ituh, seperti sepakat untuk
menyepelekan acara yang sebenarnya sudah disetujui bersama, dengan alasan sibuk
kuliah. Dan aku nggak bisa menerima hal itu. Masalah komitmen pada keputusan
bersama juga, sih. Kalau emang sudah diputuskan bersama, menurutku, harusnya
disempatkan untuk bicara dan mengerjakan, sesibuk apa pun.
Sepertinya, Bibi dan Abah juga berbeda
tipe kepribadian. Aku coba tebak, ya.. Kemungkinan, Bibi bertipe ‘Sanguinis
yang popular’, sedangkan Abah, bertipe ‘Melankolis yang sempurna’. Kalau mau
lebih akurat, aku punya tes kepribadian yang aku ambil dari buku itu juga. Bibi
bisa coba sekali lagi mencari kecocokan dengan Abah.
Menurut buku itu, tipe Melankolis dan
Sanguinis memang cenderung saling tertarik. Masing-masing tipe kepribadian itu
punya kelemahan dan kekuatan yang saling melengkapi. So don’t worry, Bi, You
and Abah are mean to each other. And they’ll live happily ever after….
Terus, hubungannya ama judul postingan
inih, apa? Aah…, coba perhatikan toples yang kita punya dan tutupnya. Apakah
bentuknya sama? Jelas nggak, kan. Kalau diperhatikan baik-baik, *kurang
kerjaan*, ada bagian yang menonjol dan bagian yang menjorok ke dalam. Gunanya
tentu, supaya toples itu tertutup dengan sempurna. Tak ada udara yang masuk,
sehingga isi didalamnya bisa lebih tahan lama, nggak cepet melempem ato basi
dan terhindar dari makhluk-makhluk yang tidak berkepentingan.
Begitu juga, dengan tipe kepribadian
yang kelihatannya bertolak belakang. Padahal sesungguhnya itulah cara Allah
untuk melengkapi kepribadian kita. Kelemahan yang satu ditutupi oleh kelebihan
yang lain.
Perbedaan kepribadian hendaknya
dijadikan sebagai cara untuk saling memperkuat karakter masing-masing. Dan
bukannya dijadikan sebagai alasan untuk perpecahan. *sok bijak*
Kata-kata mutiara dari Bibi Titi Teliti :
Menurut gue
kata ‘cocok’ itu bukanlah sesuatu yang nyata dan ada dalam suatu hubungan…hanya
sebatas kata sifat aja…karena kalo menurut gue, sampai ke ujung dunia pun
mungkin kita gak bakalan pernah bisa ketemu dengan orang yang benar benar cocok
sama kita…
Yang bisa
kita lakukan hanyalah, sampai sejauh mana kita rela dan ikhlas untuk
berkompromi dan beradaptasi sehingga kita bisa sama sama sampai di satu titik
dimana kita bisa nyaman, walaupun berbeda…
Setuju sekali , Bi.
Untuk menutup postingan inih, ijinkan aku berdoa…
…Ya Tuhan, kalau memang ipod itu
untukku, maka mudahkanlah jalanku. Tapi, kalau bukan untukku, kumohon
jadikanlah ipod itu untukku….
Gya…ha…ha…maaaakkksssaaa banget,
ya…
| Punyaku...punyakuu.... |
Tulisan ini
diikutsertakan dalam :
P.S : Poto-poto diambil dari Blog Bibi Titi Teliti
Hai mba Dian :)
BalasHapusMakasih karena sudah memilih postingan ku yang itu yah :)
Setuju dengan perumpamaan nya mba Dian, bahwa berbeda sifat itu untuk saling melengkapi yah :)
Seperti tutup botol :)
dan ituh...kenapa doanya si Abah buat dapetin aku dibajaaaak...hihihi...
Makasih udah ikutan GA ku yah mba :)
Sudah dicatat sebagai peserta :)
Aku bajak doanya Abah karena sudah terbukti kehandalannya. Buktinya, ada Kayla and Fathir yang sekarang menghiasi hari-hari bibi dan Abah.
HapusKali'2 aja berhasil juga buat aku dapetin ituh Ipod... Hi...Hi...hi...
Wah, kata mutiara bibi titi teliti nya benar - benar menyentuh mbak :D Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami sboplaza.com ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^
BalasHapus