 |
| Tolong yang dilihat gantungan hp-nya ajah, yak.... |
|
Kenapa ada Hp mejeng di awal postingan inih?
Katanya, mau cerita tentang topi bayi..?
Ehm, maaf-maaf, ya, sodara-sodara. Hp itu ‘maksa’ pengen ikutan eksis juga. Maka jadilah ditaruh di awal.
Nah, inilah dia topi bayinya...
Nggak jelas, ya? Maafkanlah, aku yang belum begitu canggih motret. Dan ini juga masih dipotret pake kamera Hp hasil (maksa) pinjam dari anakku (yg minta ongkos pinjam dg semena-mena).
Topi ini aku bikin buat hadiah untuk Mbak Fitri yang baru saja dikaruniai sepasang anak kembar. Mbak Fitri ini dulu guru mengajiku. Jadi, aku ingin ngasih hadiah yang spesial. Yang aku bikin sendiri. Beli topi bayi jadi, sih mungkin bisa aja. Tapi, memberi hadiah hasil kerjaan tangan sendiri rasanya, lebih spesial.
Masih dibikin pake benang
Poyeng. Polanya diambil dari
sini. Sebetulnya, pola topi bayi (atau topi pada umumnya) sama saja. Ini pola yang paling sederhana. Cuma pake rib stitch dan stockinette stitch. Tadinya mau dikasih nama si kembar. Tapi aku masih belum pede merajut nama langsung di rajutan. Meski tekniknya nggak gitu susah. Jadilah cuma ditambahin pom pom aja di atas topinya
Waktu belum ditambah pom pom, bentuknya biasa aja. Kayaknya, jadi kelihatan nggak menarik untuk topi bayi. Harusnya, kan, lucu-lucu gimana gituh. Bingung juga tadinya, mau dihias pake apa. Kalau ditempelin bunga, yang satunya kan buat bayi lelaki. Nggak pantes lah kalau topinya berhias bunga. Mau dibiarkan polos gitu aja, kok, akunya jadi kurang enak ngelihatnya.
Pikir punya pikir, akhirnya aku putuskan untuk bikin pom pom aja. Netral dan cukup cute untuk hiasan. Bisa dipake untuk bayi perempuan ato lelaki.
Pom pom aku buat pake garpu. Nggak punya pom pom maker soalnya (dan belum pengen punya juga). Cara bikinnya simple, alatnya juga banyak tersedia di rumah.Tinggal lilit-lilit benang di garpu, trus diiket. Gunting-gunting, dan voila jadilah pom pomnya. Selanjutnya, tinggal dirapikan dan diurai benang yang sudah terikat itu. Trus, pasang, deh pom pomnya di topi.
Setelah dipasang, topi bayinya jadi kelihatan lebih cute. Pembuatnya malah jadi histeris sendiri lihat hasil jadinya. Aiiihhh…lucu banget. *lebay.com* ;-)
Aneka gaya si topi bayi
 |
| Untuk Baby Najma |
|
 |
| Untuk Baby Najmu |
|
Seperti biasa, yang mau memberi hadiah istimewa untuk ananda tercinta ato sahabat yang baru diberi anugrah terindah dari Allah bisa langsung pesan untuk dibuatkan topi-topi bayi nan lucu ini.
Untuk membuat topi-topi inih, aku butuh waktu kurang lebih satu minggu. Kok, lama? Kan, bentuknya simple aja? Polanya juga nggak rumit. Yah, ini gara-gara rasa sakit yang tiba-tiba hadir mendera tangan kananku.
Rupanya, saking pengennya aku lihat hasil jadinya, aku lupa kalau tanganku juga punya hak untuk istirahat. Penasaran membawa sengsara. Kalau udah pegang benang, rasanya mau terus saja merajut. Nggak peduli kalau tangan udah berasa pegel-pegel. Jadinya, yah, begitulah. Aku pun ‘dipaksa’ ngaso sebentar dari kegiatan merajut.
Kayaknya, hampir semua perajut pernah punya masalah yang serupa. Sindrom ‘pengen cepet lihat hasil karya sendiri’. Hampir mirip obsesi, gitu lah. Ternyata ada namanya juga, lho. Di kalangan perajut rasa sakit akibat terlalu lama merajut, dinamakan, Knitter’s ato Crocheter’s pain. Cara mengatasinya juga nggak sulit. Cukup mengistirahatkan tangan selama beberapa waktu. Boleh ditambah dengan pijat, dilakukan sendiri juga bisa. Atau melakukan stretching (peregangan) seperti yang bisa dibaca di
sini.
Setelah, rasa sakitnya berkurang, aku lanjut lagi merajut topi-topi itu. Tapi, aku nggak terlalu ngotot lagi. Setiap beberapa menit ato sudah terasa pegel, aku berhenti. Istirahat dulu, jalan-jalan dulu, kalau lagi di rumah tiduran dulu. Ngelurusin pinggang…
Itulah suka dukanya, punya hobi merajut.Jadi, kalau ada yang merasa harga barang-barang handmade rajutan itu mahal, tolong diingat, perajut juga manusia. Saat merajut dan terasa pegel-pegel, mereka harus berhenti dulu. Yah, biar sakitnya nggak berlanjut dan malah tambah parah. Bisa-bisa harus berhenti merajut karena tangan sudah tidak kuat lagi. Belum memikirkan kombinasi warna dan tusukan-tusukan rajutan. Jadi kalau harganya mahal, aku rasa wajar banget, lah. Sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan untuk satu karya rajutan.
Ok, next posting , aku ingin cerita tentang karya-karya crochet-ku. Sebetulnya, aku lebih dulu menguasai teknik crochet, tapi memang knitting sudah menjadi keinginanku sejak lama. Makanya, yang ditulis knitting dulu.
Topi bayi dan my tiny purse mejeng bareng
 |
| Entah apa yg terjadi dg foto yg sudah ku edit. jadinya, kok, malah yg belum ke-edit, sih? *gaptek* |
Buat yang mau pesan untuk dibuatkan topi-topi bayi ini bisa inbox aku di aku FB Wiwit Dian Novianti ato email ke diannie1972@yahoo.co.id. No SMS or phone.
Salam Rajut
Giveaway 3 Tahun Ladaka Handicraft
Toss! Aku juga hobi merajut, walau lebih sering membongkarnya daripada menjadikannya. :p Saat ini aku lagi sok tahu bikin topi dengan teknik intarsia (benangnya dobel) dan bimbang apakah body-nya mau dibikin ribbing terus atau stockinette aja. Setelah melihat gambar topi unyu ini aku memutuskan untuk dibikin stockinette. :D
BalasHapusDina
Toss juga, Mbak Dina. Hi...hi...hi.. aku juga kadang suka bongkar-bongkar karya yang dah setengah jadi. Biasanya gara-gara nemu pola yang lebih menantang. Atau dah bosen lihat karya itu.
HapusIkut senang, karena dah bisa memberi inspirasi. Sukses dg topinya, ya, Mbak. Jgn lupa share cerita dan penampakannya.... :-D
Bikin sendiriiiiii???
BalasHapuswaduh, keren sekaliiii :)
Boleh jugalah kalo aku dibikinin rompi atau kaos kaki begitu mba...hihihi.
Ok, Bi Erry. Kapan2, yak, aku bikinin rompi ato kaos kaki. Harus belajar lebih keras untuk bisa bikin2 rajutan baju dan sejenisnya. Pake ukur2an, trus harus menyesuaikan dg jenis benang dan jarumnya. Rumit, tapi menantang *lirik kulkasnya Bi Erry*.
HapusBtw, kalau mau, bisa pesan topi buat Kayla ato Fathir juga. Pasti jadi tambah unyu2 kalau mereka dipakein topi... *promosi*
Kayla, Fathir, minta sama Mama dibelin topi rajutan buatan Tante, ya. Mama, kan masih punya banyak sisa Korea Pass....*rayuan gombal penjual*
kereen, bisa telaten bikin2 ky gt, ajarin mbaa.. hihi orang jualan malah disuruh ngajarin ya :D
BalasHapusEh,Gpp Mbak Rahmi, kalau mau belajar. Aku sedang mulai hitung2 biaya bikin paket belajar merajut. Tapi, Mbak Rahmi harus pindah ke Purwokerto. Paketnya, khusus untuk Purwokerto dan sekitarnya...
HapusDi Bandung ato Jakarta banyak, kok, yang buka kursus merajut. Kalau sudah jago, bisa buat aplikasi di kaos2 jualannya Mbak Rahmi. Bikin kaos limited edition. Lebih berharga (mahal) dg rajutan.
rajutannya uniktenan, kreatif... haha
BalasHapus